tribundepok.com – Bank Indonesia mengakui telah melakukan intervensi besar-besaran di pasar keuangan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat tertekan tajam terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan langkah intervensi dilakukan secara “all out” dengan mengandalkan cadangan devisa (cadev) sebagai instrumen utama untuk menahan gejolak kurs.
“Ini bukan business as usual, ini all out. Intervensi dalam jumlah besar dengan cadangan devisa yang ditunjukkan turun menjadi US$148,2 miliar,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan, Kamis (7/5/2026).
Penurunan cadangan devisa menjadi sinyal kuat besarnya upaya bank sentral menstabilkan pasar. Posisi cadev Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar US$148,2 miliar, turun sekitar US$3,7 miliar dibandingkan Februari 2026 yang mencapai US$151,9 miliar.
Meski demikian, Perry memastikan level cadangan devisa Indonesia masih berada dalam kondisi aman dan jauh di atas standar kecukupan internasional. Menurutnya, posisi cadev saat ini setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Cadangan devisa itu lebih dari cukup. Kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi, dan perlu diingat cadangan devisa dikumpulkan saat terjadi panen arus modal masuk,” jelasnya.
Tekanan terhadap rupiah memang sempat meningkat tajam pada awal pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.400 per dolar AS.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah 0,22% ke posisi Rp17.403/US$, sekaligus menjadi level intraday terlemah sepanjang sejarah.
Namun, tekanan tersebut berhasil diredam. Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026), rupiah kembali menguat terhadap dolar AS. Data Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup terapresiasi 0,29% ke level Rp17.330/US$.
Penguatan di akhir perdagangan dinilai menjadi sinyal bahwa langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia mulai memberikan dampak positif terhadap pasar keuangan domestik, meski tekanan global terhadap mata uang negara berkembang masih tinggi.***
Editor : Joko Warihnyo
