Tribundepok.com– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mengguncang pasar keuangan global. Dampaknya terasa langsung pada pasar valuta asing Asia, di mana sejumlah mata uang kawasan mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah pun ikut terseret dalam tekanan tersebut pada penutupan perdagangan akhir pekan ini.
Berdasarkan data pasar keuangan global Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,15% ke level Rp16.900 per dolar AS pada Jumat (6/3/2026). Pelemahan ini memperpanjang tren negatif mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir.
Dalam sepekan terakhir, rupiah tercatat melemah sekitar 0,83%, berbalik arah dibandingkan pekan sebelumnya yang sempat mencatat penguatan sekitar 0,6%. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap stabilitas nilai tukar di kawasan Asia.
Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko konflik geopolitik yang lebih luas. Menariknya, di tengah tekanan tersebut, mata uang Israel, shekel, justru mencatat penguatan lebih dari 1%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik pekan ini.
Geopolitik dan Kebijakan Moneter Jadi Pemicu
Para analis menilai terdapat dua faktor utama yang memicu pelemahan mata uang Asia secara bersamaan.
Pertama adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan risiko perang dan mendorong investor global untuk bersikap lebih berhati-hati. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama terkait pasokan energi global.
Faktor kedua adalah perbedaan arah kebijakan moneter antar bank sentral utama dunia, yang menciptakan perubahan fundamental dalam valuasi mata uang. Ketika dolar AS menguat, mata uang negara berkembang di Asia cenderung mengalami tekanan karena arus modal global bergerak menuju aset yang dianggap lebih aman.
Analis dari MUFG menyebutkan bahwa kondisi pasar saat ini dibentuk oleh berbagai dinamika struktural yang saling berkaitan. Di antaranya adalah perubahan pola perdagangan regional akibat pergeseran rantai pasok global, meningkatnya sensitivitas arus modal terhadap faktor keamanan, serta perbedaan tingkat inflasi antar negara Asia.
Kombinasi berbagai faktor tersebut menciptakan situasi pasar yang kompleks dan menuntut para pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Risiko Perang Mengguncang Pasar Valas
Ketegangan geopolitik tidak hanya berdampak pada wilayah konflik secara langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi regional secara lebih luas.
Dalam kondisi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS atau yen Jepang. Akibatnya, mata uang negara-negara yang memiliki eksposur lebih besar terhadap risiko konflik atau gangguan energi cenderung mengalami tekanan lebih berat.
Perubahan selera risiko investor juga terjadi dengan sangat cepat mengikuti perkembangan geopolitik. Hal ini membuat volatilitas pasar valuta asing di Asia meningkat signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, pelemahan mata uang Asia secara keseluruhan masih tergolong terbatas. Hingga saat ini, depresiasi terbesar di kawasan tersebut masih berada di kisaran sekitar 3%.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih memperkirakan konflik yang terjadi tidak akan berlangsung terlalu lama, serta dampaknya terhadap pasokan energi dan perdagangan global masih dalam batas yang dapat dikelola.
Namun para analis mengingatkan bahwa jika konflik berkembang lebih luas dari perkiraan, reaksi pasar bisa menjadi jauh lebih negatif, termasuk bagi mata uang negara-negara Asia.
Mata Uang Sensitif Energi Paling Terpukul
Sepanjang pekan ini, sejumlah mata uang Asia mengalami pelemahan cukup tajam seiring kenaikan harga minyak global, penguatan dolar AS, serta meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan.
Mata uang yang paling terdampak adalah negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi. Won Korea Selatan, baht Thailand, dan peso Filipina menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.
Hal ini berkaitan dengan ketergantungan negara-negara tersebut terhadap impor minyak serta potensi gangguan distribusi energi dari kawasan Timur Tengah, terutama jika konflik memengaruhi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Di sisi lain, kondisi menarik juga terjadi pada ringgit Malaysia. Meski Malaysia dikenal sebagai eksportir bersih minyak, mata uangnya tetap mengalami tekanan. Para analis menilai pelemahan tersebut lebih dipicu oleh sentimen global yang cenderung menghindari risiko serta penguatan dolar AS secara luas.
Sementara itu, yen Jepang juga mengalami pelemahan meskipun secara historis mata uang tersebut sering dianggap sebagai aset safe haven saat ketegangan geopolitik meningkat.
Shekel Israel Justru Menguat
Di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, mata uang Israel, shekel, justru mencatat penguatan sekitar 1,3% terhadap dolar AS. Ini merupakan penguatan terbesar dalam dua bulan terakhir dan menjadi yang paling kuat di antara mata uang utama dunia pada pekan ini.
Ekonom kepala IBI Investment House, Rafi Gozlan, menilai penguatan tersebut kemungkinan didorong oleh aktivitas investor domestik, termasuk reksa dana yang berfokus pada aset-aset Israel.
Sebagian investor tampaknya memandang konflik saat ini sebagai dinamika jangka pendek dan justru memasang taruhan jangka panjang terhadap posisi geopolitik Israel di masa depan.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh CEO Bank Hapoalim, Yadin Antebi, yang menilai bahwa setelah konflik berakhir, posisi strategis Israel di kawasan berpotensi menjadi lebih kuat.
Menurutnya, jika ancaman geopolitik utama berhasil dilemahkan, maka stabilitas keamanan dan ekonomi negara tersebut dapat meningkat dalam jangka panjang.
Prospek Ke Depan Masih Penuh Ketidakpastian
Tim riset MUFG memproyeksikan bahwa pergerakan mata uang Asia dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan moneter global.
Yen Jepang diperkirakan tetap menunjukkan karakter sebagai aset safe haven ketika tekanan geopolitik meningkat, meskipun kebijakan moneter Bank of Japan dapat menimbulkan tekanan tambahan.
Sementara itu, yuan China menghadapi dinamika yang lebih kompleks karena dipengaruhi oleh faktor domestik, kebijakan ekonomi pemerintah, serta risiko keamanan regional.
Untuk kawasan Asia Tenggara, respons mata uang diperkirakan akan bervariasi tergantung pada struktur ekonomi, ketergantungan energi, serta posisi geografis masing-masing negara.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, dolar Singapura dipandang memiliki posisi relatif lebih stabil karena didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan reputasi stabilitas kebijakan.
Perbedaan kondisi antar negara ini menciptakan berbagai peluang strategi investasi bagi pelaku pasar, namun pada saat yang sama juga menuntut manajemen risiko yang lebih ketat di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang terus berubah.***
Editor : Joko Warihnyo

