tribundepok.com – Ketua PGRI Kota Depok Nisar Sakim, S.Pd. menyadari selama ini anggota PGRI Kota Depok hampir seluruhnya berasal dari SD Negeri. seolah ada pembatasan itu padahal tidak.
” Kami ingin merangkul semua guru baik dari sekolah swasta maupun dari jenjang sekolah lebih tinggi seperti SMP dan SMA. Karena pada dasarnya PGRI ingin menaungi semua guru,” ujarnya.
Ia pun mencontohkan di Cilodong sudah mulai ada perubahan , sejumlah gurubsekolah swasta bergabung di PGRI . “Ada sekolah,-sekolah seperti SD Ar -Royan, SD Pemuda Bangsa dan lainnya guru-gurunya gabung di PGRI dan ininakan menjangkau lebohbluas lagi ,” tambahnya.
Bagaimana dengan sekolah berbasis agama ? Menurutnya, bukan tak boleh bergabung di PGRI , kalau mau bergabung pun akan lebih baik karena PGRI cakupannya lebih luas karena legalitasnya ke atas dan ke bswah jelas. PGRI itu nasional ada pusat bahkan sampai ranting.
” Kalau sekolah sekolah Islam bukannya tidak boleh bergabung hanya saja mereka punya Pergunu ( Persatuan Guru Nahdatul Ulama) ada juga Persatuan Guru Madrasah. Tapi mereka jalurnya ke atas nggak nasional. Kebawah pun dia nggak ada ranting. Legalitasnya ke Kemenag,’ ujarnya.

Jadi intinya PGRI sekarang ini terbuka untuk guru negeri dan swasta. Tinggal sosialisasinya berproses gak bisa grasa-grusu.
” Sambil kita menawarkan sambil menunggu kesadaran dari mereka untuk bergabung . Yang akan diberikan PGRI kepada anggota utamanya adalah advokasi, untuk kesejahteraan anggota kami tidak bisa menjanjikan, hanya sebatas memperjuangkan karena ini hak nya pemerintah, kita hanya menyampaikan pada pemerintah bagaimana kondisi di lapangan terkait kesejahteraan guru-guru kami, paparnya.
Sementara itu Sumarno, kepala sekolah SMPN 2 yang juga Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) SMP Negeri Kota Depok menyambut baik keinginan ketua PGRI tersebut.
” Sebenarnya bukan tak mau bergabung sejauh ini tak pernah ada ajakan atau melibatkan guru SMP dalam kegiatan ,” kilahnya . Ia berharap kedepannya mereka lebih dirangkul.
Menyinggung upaya peningkatan kesejahteraan melalui koperasi guru. Nisar menjelaskan, saat ini masih dalam taraf pembicaraan bagaimana konsep terbaiknya.
” Kalau untuk koperasi guru itu masih proses , dalam penggodokan, di bidang usaha itu masuknya. Untuk usaha ini masih dipikirkan bagaimana membuka di cabang masing -masing tapi dalam koordinasi kota. Karena kejauhan ya jika semua fokusnya ke kota. Tapi setiap upaya ada bagian keuntungan untuk kota juga , karena tingkat kota itu banyak kegiatannya,” pungkasnya (d’toro )

