tribundepok.com — Masjid Istiqlal kembali menjadi pusat kebersamaan dan refleksi kebangsaan dalam peringatan Nuzulul Qur’an yang dipadati puluhan ribu jamaah, Minggu malam (9/3/2026). Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, peringatan turunnya Al-Qur’an ini tidak sekadar menjadi ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai persatuan, keberagaman, dan peradaban bangsa.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Ribuan jamaah memadati pelataran hingga ruang utama masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema, menghadirkan suasana reflektif tentang bagaimana nilai-nilai kitab suci menjadi pedoman hidup sekaligus fondasi harmoni dalam kehidupan berbangsa.
Ketua Panitia Nuzulul Qur’an Masjid Istiqlal, H. Mas’ud Halimin, menjelaskan bahwa tema yang diangkat tahun ini adalah “Nuzulul Qur’an: Jembatan Peradaban Harmoni.” Menurutnya, tema tersebut dipilih sebagai cerminan realitas Indonesia yang kaya akan tradisi, budaya, dan peradaban.
“Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan peradaban, tradisi, dan budaya. Kami berharap nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi semangat dan ruh yang mendorong Indonesia menjadi negara dengan peradaban yang besar,” ujar Mas’ud.
Dalam kesempatan itu, panitia juga meluncurkan program wakaf 100.000 Mushaf Iluminasi Tionghoa yang akan disebarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, sebanyak 3.200 mushaf telah terkumpul dan siap didistribusikan ke berbagai pelosok negeri sebagai bagian dari syiar Al-Qur’an yang merangkul keberagaman budaya.
Momentum kebersamaan semakin terasa dengan keterlibatan berbagai komunitas, termasuk kolaborasi dengan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Ketua Umum PITI, Dr. H. Serian Wijatno, menilai peringatan Nuzulul Qur’an di Istiqlal menjadi simbol kuat bahwa Al-Qur’an mampu melampaui batas-batas perbedaan budaya.
“Peringatan Nuzulul Qur’an malam ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an mampu melewati sekat perbedaan dan menjadi jembatan peradaban yang harmonis lintas kebudayaan, termasuk budaya Muslim Tionghoa dan Nusantara,” ujarnya.
Menurutnya, Masjid Istiqlal bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan berbagai identitas budaya yang memperkaya wajah Islam Indonesia.
Sementara itu, Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, mengajak jamaah untuk merenungkan sejarah turunnya Al-Qur’an serta perannya dalam perkembangan peradaban Islam di dunia.
“Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa salah satu agama yang paling cepat berkembang di dunia adalah Islam, dan itu tidak lepas dari peran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat manusia,” ujarnya dalam tausiyah.
Ia juga menyinggung kuatnya hubungan historis antara budaya Tionghoa dan Nusantara yang telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian dari mozaik kebangsaan Indonesia.
Acara semakin berkesan dengan penampilan seni lukis pasir (sand art) yang menggambarkan perjalanan relasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Visualisasi tersebut menghadirkan pesan mendalam tentang bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun harmoni.
Sejumlah pejabat turut hadir dalam peringatan ini, di antaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ketua KPU RI, Wali Kota Administrasi Jakarta Pusat yang mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta, serta Asisten Kesejahteraan Rakyat Provinsi DKI Jakarta yang mewakili Gubernur DKI Jakarta.
Di pelataran Masjid Istiqlal, suasana hangat tampak dari antusiasme jamaah yang mengabadikan momen dengan memegang mushaf Iluminasi Tionghoa. Bagi banyak orang, mushaf tersebut bukan sekadar kitab suci, melainkan simbol harapan bahwa keberagaman budaya dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Istiqlal tahun ini akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia hadir sebagai pesan kuat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi jembatan peradaban, merangkul perbedaan, dan memperkuat persatuan bangsa Indonesia.*
Editor : Joko Warihnyo

