Tribundepok.com – Prabumulih — Insiden pengeroyokan yang diduga melibatkan ajudan Wali Kota Prabumulih, Arlan, serta sejumlah oknum aparat terjadi di kawasan Simpang Tiga Bakaran, Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, Senin (2/3/2026) sekitar pukul 20.25 WIB.
Peristiwa bermula dari kecelakaan lalu lintas antara mobil Honda Brio merah dan mobil Pajero hitam. Berdasarkan keterangan keluarga, kendaraan Pajero tersebut diduga menabrak dari arah belakang mobil yang ditumpangi Abi Rahmad Rizky, yang disebut sebagai Ketua DPD APM sekaligus putra pertama Adi Susanto.
Kedua pengendara sempat turun untuk menyelesaikan persoalan secara langsung. Namun situasi disebut memanas hingga terjadi adu fisik.
Perselisihan kemudian bergeser ke area di luar pagar yard kediaman Wali Kota Prabumulih.
Mobil Pajero yang terlibat kecelakaan disebut berkaitan dengan pihak kediaman tersebut.
Setibanya di lokasi, suasana dilaporkan semakin tegang. Sekitar 20 hingga 25 orang disebut keluar dari dalam area yard. Menurut pengakuan pelapor, di antara mereka diduga terdapat oknum TNI dan Polri.
Bentrokan pun tak terhindarkan. Lima orang yang merupakan anak dan keponakan Adi Susanto dilaporkan mengalami dugaan pengeroyokan. Abi Rahmad Rizky termasuk di antara korban dalam peristiwa tersebut.
Adi Susanto mengaku datang ke lokasi dengan niat menengahi dan meredam situasi karena mengenal Arlan. Namun ia menyatakan justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan dan ikut menjadi korban.

Saya datang untuk menenangkan dan menengahi agar kejadian tidak berlanjut. Namun saya justru disambut dengan ucapan yang menyakitkan, bahkan saya sendiri ikut menjadi korban pengeroyokan,” ujar Adi.
Ia menegaskan persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut harga diri, melainkan rasa sakit sebagai orang tua yang menyaksikan anaknya diduga menjadi korban kekerasan.
Adi juga meminta agar rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar kediaman tersebut dibuka guna mengungkap peristiwa secara transparan.
Atas kejadian itu, pihak keluarga telah melaporkan insiden tersebut ke Subdenpom dan Polres Prabumulih untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.
Hingga berita ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak Wali Kota Prabumulih terkait dugaan keterlibatan ajudan maupun oknum aparat dalam insiden tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian publik lantaran diduga melibatkan lingkar kekuasaan daerah dan aparat penegak hukum. Masyarakat menunggu langkah aparat guna memastikan proses hukum berjalan objektif dan transparan.
(Tim)
